Selasa, 19 Juni 2012

bagai mana proses pembuatan tahu secara komvensional


BAGAI MANA PROSES PEMBUATAN TAHU SECARA KOMVENSIONAL

DI SUSUN OLEH :

I PUTU SUMARIANTO
2009 12 032


      UNIVERSITAS ANDI DJEMMA
     PALOPO
      2011/2012

I.             PENDAHULUAN
1.1.        Latar belakang
Tahu merupakan salah satu bahan makanan pokok di negeri ini, yang termasuk dalam makanan 4 (empat) sehat 5 (lima) sempurna. Tahu juga merupakan makanan yang mengandung sangat banyak gizi dan cukup mudah untuk diproduksi. Untuk memproduksi tahu bahan-bahan yang dibutuhkan hanya berupa kacang kedelai. Tidak heran jika saat ini kita dapat menemukan banyak sekali pabrik pembuatan tahu, baik dalam bentuk usaha kecil dan usaha menengah yang masih menggunakan cara konvensional ataupun usaha-usaha yang sudah cukup sukses dengan cara pembuatan yang lebih modern. Berdasarkan hal-hal diatas maka kami tertarik untuk menjadikan Pabrik Pembuatan Tahu sebagai bahan makalah proses produksi kami.
Lokasi Pabrik pembuatan tahu yang kami pilih terletak di daerah Jakarta Timur. Pabrik ini merupakan pabrik pembuatan tahu yang masuk dalam kategori usaha kecil dan menegah (UKM). Cara pembuatan tahu-pun masih dengan cara konvensional sehingga peran individu atau dalam hal ini para pekerja sangatlah besar didalam proses pembuatannya.
Pabrik yang berdiri sejak tahun 1983 ini didirikan oleh Bapak H. Lani. Pabrik pembuatannyapun dibangun dalam kompleks rumahnya sendiri, dan masih bertahan sampai hari ini. Proses pembuatan tahu ini berlangsung di sebuah ruang berukuran 10 m x 7 m. Dan didalam ruang ini  proses produksi tahu berlangsung secara konstan. Didalamnya terdapat 7 pekerja dengan pembagian tugas masing-masing. Ada yang bertugas menggiling, menguapi, dan menyaring (2 orang). Ada yang bertugas untuk mencetak (2 orang). Ada yang bertugas untuk mengaturnya dalam kaleng-kaleng besar sebelum akhirnya direbus (2 orang). Dan ada pula yang bertugas untuk menggoreng tahu-tahu yang sudah jadi (1 orang).
Di dalam ruangan tersebut peralatan yang digunakan dapat dibilang sederhana dan masih sangat tradisional. Saat pertama memasuki pintu ruangan kita akan melihat sebuah mesin uap konvensional yang terbuat dari 2 buah drum yang berfungsi sebagai penangkap uap. Uap atau panas yang dikumpulkan oleh drumpun berasal dari kayu yang dibakar bukan mesin uap. Jadi awalnya kayu akan dibakar di dekat drum tersebut. Lalu uap panasnya akan terkumpul dalam drum sebelum akhirnya akan disalurkan melalui pipa-pipa besi ke bak-bak penampungan. Teknik ini merupakan pengganti teknik perebusan sari kedelai, jadi pabrik ini tidak merebus sari kedelai mereka melainkan meggunakan teknik penguapan.
Selain itu di dalam ruangan juga terdapat 1 mesin penggiling. Jumlah mesin penggiling yang hanya satu-satunya inilah yang menurut kami menjaga kontinuitas dari proses produksi tahu. Selain itu juga terdapat 4 bak dari batu yang digunakan sebagai wadah untuk menguapi sari kedelai dan juga sebagai tempat penampungan air. Lalu ada 4 bak plastik yang digunakan untuk mengendapkan tahu. Ada 25 cetakan dari kayu untuk mencetak tahu. Ada banyak sekali kaleng-kaleng besar yang nantinya akan digunakan sebagai wadah saat tahu dirabus. Dan sebuah penggorengan besar yang menggunakan kayu bakar untuk menggoreng tahu. Serta rak-rak dari kayu untuk menampung tahu-tahu yang sudah tercetak.
Dengan semua peralatan sederhana diatas pabrik ini berdiri dan menghidupi para karyawannya sejak tahun 1983 hingga saat ini. Tahu yang diproduksi di pabrik Pak H. Lani ini merupakan suatu produk yang dikenal dengan nama Tahu Jambi. Sekilas kita pasti bingung mendengar nama tahu Jambi. Sebenarnya tahu ini adalah Tahu Sumedang biasa. Tapi karena pak Haji ingin sesuatu yang berbeda dari nama tahu produksinya maka tahu inipun diberi nama Tahu Jambi. Sesuai dengan nama kampug halaman pak Haji.
Pabrik ini dibangun oleh pak haji sendiri jauh sebelum ia berkeluarga. Dan merupakan suatu usaha yang dirintis sejak ia masih muda. Saat ini pendapatan bersih yang dikumpulkan perhari dapat mencapai lebih dari Rp. 2.000.000,-. Jadi dapat dikatakan bahwa pembuatan tahu ini merupakan bisnis yang menjanjikan.
Dalam sehari pak Haji membutuhkan 3 kuintal kacang kedelai untuk memenuhi kuota produksi mereka. Kacang kedelai ini didapat dari para pemasok yang memang sudah menjadi kepercayaan pak Haji karena menurutnya, para pemasok ini memberikan kacang kedelai dengan kualitas yang cukup bagus dengan harga yang pantas-tidak dimahalkan.
Selanjutnya tentu kacang kedelai tersebut  akan diproses oleh para pekerjanya menjadi tahu. Dari 3 kuintal kg kacang kedelai yang ada, nantinya akan diubah menjadi ± 210 cetak tahu. Masing-masing cetakan tahu tersebut biasanya dijual dengan harga Rp. 20.000,- hingga Rp. 24.000,-.
Secara kasar dapat dihitung pendapatan pak Haji adalah Rp. 4.830.000 ,- dengan omzet inilah bisnis tahu ini dibangun dan terus dipertahankan. Namun tentu saja tidak semua tahu akan laku di pasar. Pasar terbesar dari produk tahu Jambi ini menurut pak Haji adalah para penjaja gorengan. Masing-masing dari mereka biasanya memesan hingga 7 papan (cetakan) tahu setiap hari.
Begitulah pabrik tahu milik Pak H. Lani terus berdiri hingga saat ini. Dengan modal yang tidak terlalu besar dia bisa memperoleh omzet yang lebih dari cukup untuk menggaji para karyawan, modal usaha, dan menghidupi keluarganya sendiri tentunya.
Maka dapat disimpulkan bahwa produksi tahu ini merupakan suatu bisnins yang menjanjikan. Menyerap tenaga kerja. Dan jarang sekali mengalami kerugian karena besarnya pasar yang ada di Indonesia.

Untuk menjaga keseimbangan konsep yang akan kami bahas selanjutnya maka kami menyertakan rumusan masalah yang terkait dengan isi dari makalah kami ini, yaitu tentang “Bagaimanakah proses pembuatan tahu secara konvensional?”
1.2.    Batasan kasus situasi belajar
          Dalam studi ini di pilih usaha yang bergerak dibidang pengusaha tahu, spesipik kepada proses pembuatan, dalam hal ini milihat “,bagai mana proses pembuatan tahu secara komvensional? “   Adapun pengusaha yang saya teliti adalah Pengusaha tahu pak sigo, yang berlokasi di Desa balete, Kecamatan Sukamaju, kabupaten luwu utara
a.      Sumber bahan baku yang meliputi darimana bahan baku yang di peroleh, umur berapa bahan baku tersebut dipanen dan hasil penennya di jual kemana.
b.      Proses pembuatan tahu sampai menjadi tahu dibuat berapa lama


1.3.    Sasaran belajar
         dalam sasaran belajar adalah “ mengetahui bagai mana cara membuat tahu ” dan dapat dilihat dari beberapa aspek yaitu:
a.    Aspek pengetahuan
Ø  Untuk mengetahui pola manajemen pengadaan bahan baku yang diterapkan dalam perusahaan ini.
Ø  Untuk mengetahui berapa lama, agar bahan baku tersebut dapat di panen
Ø  Untuk mengetahui tahap pemeliharaan yang di terapkan oleh perusaan ini
Ø  Untuk mengetahui masalah yang di timbulkan oleh di dalam proses mana jemen dan mengetahui alternatif dalam pemecahan masalah tersebut.
b.    Aspek keterampilan
Ø  Mampu dan terampil dalam menanganin manajemen pengadaan bahan baku yang diterapkan dalam perusahaan tersebut.
Ø  Mampu dan terampil dalam mengidentifikasi masalah-masalah yang dihadapi pada setiap proses yang di hadapi pada setiap proses yang di terapkan.
Ø  Terampil dalam upaya dan menentukan alternatip dalam upaya pemecahan masalah.
c.    Aspek sikap
Ø  Menghargai pola manajemen yang berlaku dan telah di terapkan pihak perusaan.
Ø  Menciptakan suasana kerja yang kondusif dan menyenangkan.
Ø  Menjalin rasa persaudaraan dan kekeluargaan degan manajemen dan para karyawan.
Ø  Dapat memetik manfaat dari pengalaman belajar atas kasus yang sedang dikaji.
1.4.     Metode aktifitas belajar
1.4.1. Pemilihan dan pendekatan kasus
          Pemilihan kasus dalam penelitian ini di lakukan secara purposive yaitu memilih secara langsung objek atau sampel yang akan di teliti degan pertimbagan bahwa populasi yang dijadikan sampel sagat terbatas. Alasan lain memilih Pengusaha Tahu sebagai sampel karna lokasinya yang sangat strategis dan mudah di jangkau, selain itu pengadaan bahan baku akan selalu dilakukan dan bias mendukung kegiatan yang akan peneliti lakukan.mengigat jumblah bahan baku yang dibutuhkan dalam penelitian ini cukup besar untuk sampai pada tahap akhir pengumpulan data.
             Pendekatan kasus dilakukan degan cara wawancara, observasi.
1.4.2. Lokasi dan tempat
             Tempat penelitian ini berlokasi di Pengusaha Tahu yang beralamat di Desa balete, Kecamatan Lampuawa, Kabupaten Luwu Utara degan pertimbagan bahwa lokasinya yang strategis dan mudah di jangkau. Kegiatan penelitian ini akan dilaksanaan kurang lebih selama Dua Kali yang rencana akan di mulai pada tanggal 19-18 Tahun 2012


1.5.     Metode penelitian
          Untuk mencapai sasaran yang akan diiginkan, yaitu aspek pengetahuan, aspek keterampila dan aspek sikap maka di gunakan metode APPAS ( analisis persoalan dan pengembangan agrosistem ) degan tahap sebagai berikut:
Ø   Untuk mencapai aspek pengetahuan, digunakan metode studi kasus yang diharapkan akan mengungkapkan akan mengungkapkan situasi kasus yang menjadi pokus kajian. Untuk mengumpulkan informasi yang dibutuhkan dalam kasus ini digunakan metode observasi, wawancara.
Ø   Mencapai aspek keterampilan, digunakan metode wawancara yaitu dengan menanya langsung dalam perusahan.
Ø  Untuk mencapai aspek sikap, diharapkan akan muncul pada tahapan problematisasi dan intraksi terhadap kasus.








II.           TINJAUAN PUSTAKA
2.1.        Mengenal tahu
Siapa yang tidak kenal tahu? Makanan yang biasanya dijadikan lauk pauk dan makanan selingan ini selain harganya murah meriah juga digemari oleh masyarakat banyak. Tahu yang dikonsumsi ini memiliki berbagai jenis nama dan macamnya. Ada tahu Bandung, tahu China, tahu Jambi, tahu Goreng dan tahu Sumedang. Masyarakat sangat gemar dengan lauk pauk dari bahan kacang kedelai. Awal tahun tahu mulai di gemari, masyarakat mulai gusar dengan susah dan mahalnya harga lauk pauk bahan kedelai di pasar tradisional maupun di mal-mal. Tahu merupakan salah satu pangan yang digemari oleh masyarakat. Secara tidak langsung, keberadaan pangan berbahan kedelai berdampak terhadap pola makan dan ekonomi masyarakat.
Tahu, memiliki kandungan kalori protein nabati yang cukup tinggi, demikian juga kandungan lemak, vitamin dan mineral. Adanya industri tahu, memberikan peluang bisnis dan penyerapan tenaga kerja. Pemerataan kesempatan berusaha cukup berarti dengan berdirinya industri ini. Industri kecil pembuatan tahu cukup memiliki peran di sisi ekonomi masyarakat desa. Industri tahu memiliki interaksi ekonomi yang luas. Interaksi tersebut meliputi petani kedelai, kayu bakar, petani garam, petani bumbu kunyit, yang berimbas terhadap industri perkakas tahang, jamrong, tambir, ember dan drum. Disamping itu, industry kolektif artinya berkelompok. Dengan lokasi yang strategis di lingkungan kampung, mendekatkan industri dengan ketersediaan tenaga kerja di kampung tersebut. Industri tahu yang telah lama berdiri, memiliki sisi negatif terhadap lingkungan. Limbah cair sebagai produk sampingan masih belum dikelola dengan baik. Alhasil, pencemaran lingkungan terjadi. Hal ini dirasakan masyarakat dengan mulai tercemarnya air tanah, air yang digunakan sebagai kebutuhan hidup. Permasalahan ini perlu penanganan dengan baik.
Tahu merupakan salah satu makanan tradisional yang populer. Selain rasanya enak, harganya murah dan nilai gizinya pun tinggi. Bahan makanan ini diolah dari kacang kedelai. Meskipun berharga murah dan bentuknya sederhana, ternyata tahu mempunyai mutu yang istimewa dilihat dari segi gizi. Hasil-hasil studi menunjukkan bahwa tahu kaya protein bermutu tinggi, tinggi sifat komplementasi proteinnya, ideal untuk makanan diet, rendah kandungan lemak jenuh dan bebas kholesterol, kaya mineral dan vitamin (Koswara, 2006).
2.2.      Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan tahu adalah:
Ø  Kedelai
Kedelai merupakan bahan utama dalam pembuatan tahu. Kedelai yang digunakan adalah kedelai jenis Bola I.
Ø  Air
Hampir semua tahapan dalam pembuatan tahu membutuhkan air dari proses perendaman, pencucian, penggilingan, pemasakan, dan perendaman tahu yang sudah jadi sehingga dibutuhkan air dalam jumlah banyak. Air yang digunakan di berasal dari air tanah atau air artesis.

Ø  Asam Cuka
Asam Cuka berfungsi untuk mengedapkan atau memisahkan air dengan konsentrat tahu. Asam cuka mengandung cuka dan garam sehingga bersifat digunakan secara berulang-ulang.
Ø  Perendaman
Pada tahapan perendaman ini, kedelai direndam dalam sebuah bak perendam yang dibuat dari semen. Langkah pertama adalah memasukan kedelai ke dalam karung plastik kemudian diikat dan direndam selama kurang lebih 3 jam (untuk 1 karung berisi 15 kg biji kedelai). Jumlah air yang dibutuhkan tergantung dari jumlah kedelai, intinya kedelai harus terendam semua. Tujuan dari tahapan perendaman ini adalah untuk mempermudah proses penggilingan sehingga dihasilkan bubur kedelai yang kental. Selain itu, perendaman juga dapat membantu mengurangi jumlah zat antigizi (Antitripsin) yang ada pada kedelai. Zat antigizi yang ada dalam kedelai ini dapat mengurangi daya cerna protein pada produk tahu sehingga perlu diturunkan kadarnya.
Ø  Pencucian kedelai
Proses pencucian merupakan proses lanjutan setelah perendaman. Sebelum dilakukan proses pencucian, kedelai yang di dalam karung dikeluarkan dari bak pencucian, dibuka, dan dimasukan ke dalam ember-ember plastik untuk kemudian dicuci dengan air mengalir. Tujuan dari tahapan pencucian ini adalah membersihkan biji-biji kedelai dari kotoran-kotoran supaya tidak mengganggu proses penggilingan dan agar kotoran-kotoran tidak tercampur ke dalam adonan tahu. Setelah selesai proses pencucian, kedelai ditiriskan dalam saringan bambu berukuran besar.
Ø  Penggilingan
Proses penggilingan dilakukan dengan menggunakan mesin penggiling biji kedelai dengan tenaga penggerak dari motor lisrik. Tujuan penggilingan yaitu untuk memperoleh bubur kedelai yang kemudian dimasak sampai mendidih. Saat proses penggilingan sebaiknya dialiri air untuk didapatkan kekentalan bubur yang diinginkan.
Ø  Perebusan/Pemasakan
Proses perebusan ini dilakukan di sebuah bak berbentuk bundar yang dibuat dari semen yang di bagian bawahnya terdapat pemanas uap. Uap panas berasal dari ketel uap yang ada di bagian belakang lokasi proses pembuatan tahu yang dialirkan melalui pipa besi. Bahan bakar yang digunakan sebagai sumber panas adalah kayu bakar yang diperoleh dari sisa-sisa pembangunan rumah. Tujuan perebusan adalah untuk mendenaturasi protein dari kedelai sehingga protein mudah terkoagulasi saat penambahan asam. Titik akhir perebusan ditandai dengan timbulnya gelembung-gelembung panas dan mengentalnya larutan/bubur kedelai. Kapasitas bak perebusan adalah sekitar 7.5 kg kedelai.
Ø  Penyaringan
Setelah bubur kedelai direbus dan mengental, dilakukan proses penyaringan dengan menggunakan kain saring. Tujuan dari proses penyaringan ini adalah memisahkan antara ampas atau limbah padat dari bubur kedelai dengan filtrat yang diinginkan. Pada proses penyaringan ini bubur kedelai yang telah mendidih dan sedikit mengental, selanjutnya dialirkan melalui kran yang ada di bagian bawah bak pemanas. Bubur tersebut dialirkan melewati kain saring yang ada diatas bak penampung.
Setelah seluruh bubur yang ada di bak pemanas habis lalu dimulai proses penyaringan. Saat penyaringan secara terus-menerus dilakukan penambahan air dengan cara menuangkan pada bagian tepi saringan agar tidak ada padatan yang tersisa di saringan. Penuangan air diakhiri ketika filtrat yang dihasilkan sudah mencukupi. Kemudian saringan yang berisi ampas diperas sampai benar-benar kering.  Ampas hasil penyaringan disebut ampas yang kering, ampas tersebut dipindahkan ke dalam karung. Ampas tersebut dimanfaatkan untuk makanan ternak ataupun dijual untuk bahan dasar pembuatan tempe gembus/bongkrek.
Ø  Pengendapan dan Penambahan Asam Cuka
Dari proses penyaringan diperoleh filtrat putih seperti susu yang kemudian akan diproses lebih lanjut. Filtrat yang didapat kemudian ditambahkan asam cuka dalam jumlah tertentu. Fungsi penambahan asam cuka adalah mengendapkan dan menggumpalkan protein tahu sehingga terjadi pemisahan antara whey dengan gumpalan tahu. Setelah ditambahkan asam cuka terbentuk dua lapisan yaitu lapisan atas (whey) dan lapisan bawah (filtrat/endapan tahu). Endapan tersebut terjadi karena adanya koagulasi protein yang disebabkan adanya reaksi antara protein dan asam yang ditambahkan. Endapan tersebut yang merupakan bahan utama yang akan dicetak menjadi tahu. Lapisan atas (whey) yang berupa limbah cair merupakan bahan dasar yang akan diolah menjadi Nata De Soya.
Ø  Pencetakan dan Pengepresan
Proses pencetakan dan pengepresan merupakan tahap akhir pembuatan tahu. Cetakan yang digunakan adalah terbuat dari kayu berukuran 70x70cm yang diberi lubang berukuran kecil di sekelilingnya. Lubang tersebut bertujuan untuk memudahkan air keluar saat proses pengepresan. Sebelum proses pencetakan yang harus dilakukan adalah memasang kain saring tipis di permukaan cetakan. Setelah itu, endapan yang telah dihasilkan pada tahap sebelumnya dipindahkan dengan menggunakan alat semacam wajan secara pelan-pelan. Selanjutnya kain saring ditutup rapat dan kemudian diletakkan kayu yang berukuran hampir sama dengan cetakan di bagian atasnya. Setelah itu, bagian atas cetakan diberi beban untuk membantu mempercepat proses pengepresan tahu. Waktu untuk proses pengepresan ini tidak ditentukan secara tepat, pemilik mitra hanya memperkirakan dan membuka kain saring pada waktu tertentu. Pemilik mempunyai parameter bahwa tahu siap dikeluarkan dari cetakan apabila tahu tersebut sudah cukup keras dan tidak hancur bila digoyang.
Ø  Pemotongan tahu
Setelah proses pencetakan selesai, tahu yang sudah jadi dikeluarkan dari cetakan dengan cara membalik cetakan dan kemudian membuka kain saring yang melapisi tahu. Setelah itu tahu dipindahkan ke dalam bak yang berisi air agar tahu tidak hancur. Sebelum siap dipasarkan tahu terlebih dahulu dipotong sesuai ukuran. Pemotongan dilakukan di dalam air dan dilakukan secara cepat agar tahu tidak hancur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar